Ikatan Pada Umumnya

Dalam Pasal 1233 diatur bahwa semua ikatan timbul/diwujudkan baik karena adanya suatu perjanjian, maupun karena adanya suatu undang-undang. Dengan demikian maka harus telebih dahulu adanya suatu perjanjian atau suatu undang-undang sehingga dapat dikatakan bahwa perjanjian dan undang undang itu merupakan sumber suatu ikatan.

Sumber ini masih dibagi agi, yakni : ikatan yang timbul karena undang-undang belaka, dan ikatan yang timbul karena undang-undang sebagai akibat perbuatan manusia.

Prestasi

Apabila ada suatu ikatan, sudah jelas adanya suatu tujuan, yakni menurut Pasal 1234 untuk memberi sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu.

Apakah yang dimaksud dengan “sesuatu” ? “Sesuatu” dapat diartikan dengan sesuatu yang abstrak maupu yang konkrit. Misalnya memberi pelajaran dalam suatu ilmu, membuat suatu bangunan atau tidak memberi sokongan/dukungan.

a. Memberi Sesuatu.

Pasal 1235 menentukan : Dalam suatu ikatan untuk memberi sesuatu termasuk kewajiban untuk menyerahkan barang-nya dan untuk memeliharanya sampai waktu penyerahannya, sebagai seorang kepala keluarga yang baik.

Dalam suatu ikatan, selalu terlibat paling sedikit dua orang, yang saling berhadapan satu sama lain. Apabila terdapat lebih daripada dua orang, senatiasa ada dua golongan yang saling berhadapan. Golongan yang satu dapat menuntut (kreditur) dan pihak lawannya harus memenuhi kewajiban yang dibebankan kepadanya (debitur).

Pasal 1236 : si debitur (yang berhutang) berkewajiban memberi ganti rugi pada kreditur (yang menghutangkan) berupa biaya-biaya, karena kerusakan yang dideritanya dan bunga-bunga, apabila yang berhutang karena perbuatannya sendiri tidak dapat menyerahkan barang yang bersangkutan, atau apabila ia tidak memeliharanya secara baik-baik.

Barang Tertentu

Adapun Pasal 1237 memuat suatu peraturan yang lebih terperinci, yakni tentang memberikan menyerahkan suatu barang/benda tertentu.

Dalam hal ini, apabila terdapat suatu ikatan untuk menyerahkan suatu barang/ benda tertentu, maka barang/benda tersebut menjadi tanggungannya kreditur  dari saat mulainya berlaku ikatan itu.

Apabila debitur lalai untuk menyerahkan barang/benda itu, dialah yang harus bertanggung jawab mulai saat ternyata adanya kelalaian tadi.

Teguran (Somasi)

Agar suapaya kreditur dapat menuntut ganti rugi dari debitur, maka yang tersebut belakangan ini harus ditegur terlebih dahulu (in gebrekegesteld). Apabila dalam ikatan yang bersangkutan sudah terdapat ketentuan bahwa teguran tadi akan timbul sendiri karena lewatnya jangka waktu, maka tak perlulah diadakan teguran. Demikianlah ditentukan dalam Pasal 1238.

Caranya menegur ialah dengan suatu perintah, biasanya dengan suatu surat juru sita (deurwaardwes exploit), akan tetapi sudah cukup apabila kreditor sendiri mengirim surat teguran itu. Oleh karena perkataan dalam Pasal 1238 berbunyi “oleh suatu perintah atau suatu akte semacam itu”, maka jelas bahwa teguran selalu dilakukan secara tertulis, hal ini memang sudah sewajarnya, karena harus ada bukti bahwa sudah ada teguran.

b. Berbuat Sesuatu atau Tidak Berbuat Sesuatu

Pasal 1239 menentukan, pemecahan persoalan ikatan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu diadakan dengan pemberian biaya-biaya, kerugian dan bunga, dalam hal si debitur tidak menunaikan kewajibannya.

Sungguhpun demikian, Pasal 1240 menentukan bahwa si kreditor berhak menuntut pembatalannya suatu perbuatan, yang tidak sesuai dengan ikatan yang bersangkutan. Dalam hal pada itu ia dapat memohon kepada Hakim supaya diberi kuasa untuk membatalkan apa yang sudah dilakukan oleh si debitur, atas biaya si debitur. Kesemuanya itu tidak mengurangi haknya atas menuntut ganti rugi berupa pembayaran biaya, kerugian dan bunga, apabila memang ada alasannya. Andaikata si debitur tidak dapat melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya, maka si kreditor dapat diberi kuasa untuk mngerjakan/menyuruh mengerjakannya, segala sesuatu atas biayanya si debitur, demikianlah ditentukan oleh Pasal 1241.

Suatu ikatan yang berisi perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu, dapat mengakibatkan si debitur harus membayar ganti segala kerugian, hanya karena ia melanggar ikatan tadi. Dalam hal ini yang diatur dalam Pasal 1242 tidak perlu kreditur menegur si debitur. Kenyataannya bahwa si debitur telah melanggar janjinya/mengingkari janji untuk tidak berbuat sesuatu, sudah cukup untuk menuntutnya. Oleh adanya wanprestasi atau pengingkaran janji itu, sudah bersalahlah si debitur, sehingga ia dapat dituntut untuk memberi kerugian.

Sumber : Soerjatin, Hukum Ikatan, Jakarta ; Pradya Paramita, 1981.

Tentang alfanaikkelas

alfa.naik.kelas@gmail.com
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Perikatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s